Menggapai pelangi (PART II)

Aku masih ingat ketika aku masih dikampung, setiap pagi ibu menggerakkan semua adik beradikku yang ramai (enam lelaki dan enam perempuan) dari tidur supaya bangun cepat.

“Bangun Quzah, bangun Miya, bangun Aini…” jerit ibu. Kadang ibu menjerit lagi, tapi nama abang dan kakak pula, “Dilah, Manaf, Din, Khalid…cepat bangun, dah dekap pukul 8 ni…nanti lambat ke sekolah.” Aku yang paling awal sampai ke perigi dalam kedinginan pagi. Tangan menggapai cebok yang lebih besar dan berat daripada badanku sendiri ketika itu…Aku ketika itu baru darjah enam. Pagi masih muda. Suasana masih gelap. Ketika itu, tak ada pula rasa takut dengan manusia durjana seperti zaman milenium ini. Tak ada yang mengintai, tak ada nak kacau anak gadis di perigi. Tak terfikir langsung rasa takut seperti aku merasa takut jika anak gadisku berada di luar rumah walau waktu siang seperti hari ini. Takut anak gadis diculik orang, dikacau orang. Mandi dan mandi seenaknya…mencedok air dari perigi dengan susah payah, tapi tetap menyenangkan hati, walaupun dingin mencengkam tulang temulang.

“Cepatle Quzah…” jerit abang Manaf…”Yelah, dah siap.” Jeritku kembali. Pada masa yang sama ibu masih menjeritkan nama abang Khalid yang terkenal dengan liatnya untuk bangun pagi. “Tak payah pergi sekolahlah, dah dekat pukul 8 pagi, nanti cikgu marah.” Sempat abang Khalid nak ambil kesempatan atas amaran ibu yang kata “..hampir pukul 8 pagi”…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: